Oleh: Syamril
(Direktur Sekolah Islam Athirah / Rektor Institut Teknologi & Bisnis Kalla)
Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan sudah menjadi bagian kehidupan kita. Di smart phone sudah banyak AI tersedia. Ingin googling tidak lagi seperti dulu. Bisa pakai AI mode. Bisa berdialog, bertanya dan berdiskusi tentang sesuatu. Pengguna WA sudah ada Meta yang juga sama dengan AI Mode di google.
Bahkan di bidang pendidikan lebih jauh lagi penggunaannya. Chat GPT, Gemini, AI Mode Google dan lainnya bisa membantu belajar. Tapi bisa juga membuat malas berpikir. Bayangkan, jika ada soal di layar, untuk menjawabnya tinggal difoto. Masukkan ke AI, akan dijawab dengan cepat. Ada buku tebal ingin tahu apa saja pokok-pokok isinya. Tinggal masukkan file pdf nya, AI akan merangkumnya.
Ingin menulis karya ilmiah, butuh dasar teori yang relevan hingga instrumen penelitian. AI bisa buatkan. Sampai data sudah ada dan minta AI olah secara statistik juga bisa. Tidak perlu lagi pakai software statistik khusus untuk olah data level tertentu. Bahkan minta melakukan analisis dan kesimpulan juga sudah bisa.
Bahkan lebih jauh lagi masuk di dunia industri. Banyak pabrik sudah menggunakan AI dan robot. Jika sebelumnya pabrik memiliki ribuan karyawan. Sekarang tinggal puluhan saja. Bahkan ada rumah makan di China, koki atau juru masaknya juga pakai robot. Orang masuk belanja tanpa bertemu karyawan berwujud manusia. Pesan makanan hingga pengantaran semua pakai robot.
AI begitu memudahkan hidup manusia. Tapi bisa juga menjadi saingan manusia di lapangan pekerjaan. Agar bisa bersaing, manusia harus memiliki keunikan yang membuatnya unggul dari AI. Apa yang tidak bisa disiapkan oleh AI? Inilah yang akan kita ulas di bulan Ramadhan ini. Agar mudah diingat saya singkat juga dengan kata AI.
Pertama yaitu Adab dan Iman (AI). Keduanya tidak dimiliki AI. Hanya manusia yang punya. Ramadhan hadir untuk menguatkan adab dan iman kita. Perhatikan, Ramadhan membuat kita menjadi lebih beradab dan beriman. Beriman kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya untuk berpuasa, dan shalat tarawih. Beriman kepada Rasulullah dengan menjalankan sunnahnya dan membaca warisannya yaitu Al Quran. Beradab kepada sesama, keluarga, tetangga dan juga kepada alam. Kita lebih sopan, lembut, suka berbagi dan penuh kasih sayang kepada sesama.
Kedua yaitu Amal dan Ikhlas. Ini juga AI tidak punya. Ramadhan mendorong kita untuk memaksimalkan amal saleh baik berupa ibadah maupun muamalah. Puasa, shalat malam, tadarus Al Qur'an, infak dan sedekah, serta amal saleh lainnya. Puasa juga melatih keikhlasan sebagai ibadah rahasia. Hanya Allah dan orang yang berpuasa yang tahu. Amal saleh akan bernilai pahala jika dikerjakan dengan ikhlas. Tanpa keikhlasan, tidak bernilai di sisi Allah.
Ketiga yaitu Adversity dan Integrity. Adversity adalah ketangguhan menghadapi tantangan kehidupan. Ketegaran menghadapi permasalahan. Kesabaran tanpa batas dan syukur tanpa syarat. Puasa melatih itu semua. Menahan lapar, harus, hasrat seksual, panca indra, pikiran dan hati. Menunda kesenangan untuk kemenangan jangka panjang dan melawan hawa nafsu. Itulah adversity.
Puasa juga melatih integrity yaitu kesesuaian pikiran, perkataan dan perbuatan. Kita berpuasa dengan penuh kejujuran. Bisa saja kita makan dan minum di tempat tersembunyi. Tapi tidak kita lakukan. Memang manusia tidak melihat tapi kita yakin Allah Maha Melihat. Itulah integrity sejati yang lahir dari kesadaran merasakan pengawasan dari Allah. Bukan pengawasan manusia.
Itulah AI di Ramadhan yaitu Adab dan Iman, Amal dan Ikhlas, serta Adversity dan Integrity. Itu semua yang membedakan manusia dengan Artificial Intelligence. Jika kita bisa mengasah dengan baik, manusia akan tetap unggul dari AI dan robot. Mari optimalkan bulan Ramadhan untuk membina diri menjadi manusia unggul sebagai khalifah di muka bumi.
Eh... satu lagi. Ramadhan juga ada AI yaitu Al Qur'an dan Infak. Ramadhan bulan diturunkannya Al Qur'an. Mari perbanyak interaksi dengan Al Qur"an. Targetkan minimal sekali tamat 30 juz. Ramadhan juga bulan infak. Rasulullah dermawan dan di bulan Ramadhan menjadi puncak kedermawanannya. Mari teladani Rasulullah.
Makassar, 23 Februari 2026