Oleh: Syamril
(Direktur Sekolah Islam Athirah / Rektor Institut Teknologi & Bisnis Kalla)
Menurut Prof. Dr. Hamzah Upu Guru Besar UNM Makassar, ada 4 level komitmen manusia. Pertama komitmen prosedural. Sifatnya rutinitas dan tradisi. Melakukan sesuatu karena dari dulu seperti itu. Sudah rutin dilakukan tanpa tahu apa dasar dan alasannya.
Level kedua yaitu komitmen emosional. Melakukan sesuatu karena ada rasa malu. Apalagi jika ada keterikatan sosial yang kuat. Malu sama teman, tetangga dan masyarakat sekitar.
Level ketiga yaitu komitmen intelektual. Melakukan sesuatu karena ilmu pengetahuan. Tahu dasar dan alasannya. Apa manfaatnya. Sehingga muncul dorongan dari dalam. Tidak lagi ikut-ikutan dan atau rasa malu kepada orang lain.
Level keempat yaitu komitmen spiritual. Ada kesadaran yang terbangun dari ajaran agama dan etika kebijaksanaan. Terbangun dari panggilan jiwa dan keimanan. Melahirkan rasa syukur dan sabar dalam menghadapi segala keadaan.
Mari merenungi diri kita masing-masing di bulan Ramadhan ini. Melaksanakan puasa, shalat tarawih, tilawah Al Quran, sedekah, berbagi makanan, dan amalan lainnya. Komitmen kita berada pada level berapa.
Jika berada di level 1 karena rutinitas dan tradisi tahunan tanpa tahu dasar ilmunya. Biasanya cepat habis energinya. Pada pekan pertama masih semangat. Pekan kedua mulai loyo. Itulah sebabnya banyak masjid yang penuh di awal Ramadhan. Memasuki pekan kedua shaffnya semakin maju.
Demikian pula jika berada pada level dua yaitu emosional. Malu sama teman. Tidak enak kalau diajak ke masjid dan tidak ikut. Ini juga bermasalah karena dorongannya masih dari eksternal.
Jangan bertahan di level 1 dan 2. Naiklah ke level 3 yaitu komitmen intelektual. Lakukan sesuatu karena ilmu pengetahuan. Khusus di Ramadhan pahami dengan baik keistimewaannya. Apa manfaat lahir dan batin yang akan diraih jika beribadah di bulan Ramadhan.
Naik terus sampai level 4 yaitu komitmen spiritual. Lakukan semua karena iman dan ikhlas semata-mata karena Allah. Ada kesadaran spiritual. Allah Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya. Diciptakannya bulan Ramadhan yang istimewa untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya.
Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan berjumpa Ramadhan. Diwujudkan dengan melakukan yang terbaik di bulan Ramadhan. Terbaik dalam kuantitas dan kualitas. Ibadah ritual, sosial dan intelektual.
Ada rasa sabar dalam menjalani semuanya. Sabar dalam menjalankan perintah. Sabar dalam menjauhi larangan. Sabar dalam mengendalikan hawa nafsu. Sabar dalam menghadapi kesulitan. Sabar dalam berkorban waktu, tenaga, pikiran dan harta sebagai wujud cinta kepada Allah.
Komitmen spiritual membuat kita menjalani bulan Ramadhan dengan penghayatan dan kenikmatan. Senang dan bahagia hingga akhir Ramadhan. Bahkan bersedih jika Ramadhan selesai. Ingin rasanya Ramadhan sepanjang tahun.
Makassar, 2 Ramadhan 1447 / 20 Februari 2026