Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Kebahagiaan akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang dicintai, namun akan lebih membahagiakan apabila mampu mencintai apa yang sudah dimiliki. Kepuasan akan dirasakan apabila bisa meraih kebaikan yang diharapkan, tetapi akan lebih terasa memuaskan jika mampu mengubah apa yang sudah ada dalam genggaman menjadi kebaikan yang sesuai dengan harapan. Cintailah orang-orang yang ada disekitarmu yang telah menjadi bagian dari dirimu. Keluarga, sahabat-sahabat yang sejati. Dukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan.
Ketika masih sekolah, apa yang ada di dalam benakmu sebagai sesuatu yang akan sangat membahagiakan jika sekiranya bisa terwujud?
Lulus sekolah barangkali jawabannya.
Setelah lulus sekolah, benar merasa bahagia, tetapi ternyata itu hanya sejenak. Setelah itu, keinginan lain yang diharapkan akan mendatangkan kebahagiaan mulai muncul di hati. Bahagia akan dirasakan apabila diterima di tempat kuliah favorit.
Begitu diterima kuliah, merasa bahagia, namun itu pun hanya sejenak. Di dalam hati mulai muncul harapan yang lain, kebahagiaan akan dirasakan apabila lulus kuliah dan diwisuda.
Ketika wisuda, merasa sangat bahagia, namun lagi-lagi itu hanya sejenak. Muncul lagi keinginan yang lain di dalam hati bahwa kebahagiaan akan dirasakan apabila bisa lanjut ke jenjang kuliah yang lebih tinggi.
Pada akhirnya kuliah sampai selesai s3. Bahagia? Tentu saja, namun hanya sejenak, setelah itu mulai muncul keinginan untuk bekerja dan mengharapkan dengan bekerja akan merasa bahagia.
Setelah bekerja, sejenak merasa bahagia. Setelah itu, kembali merasa hampa dan mulai berpikir bahwa menikah lah yang akan mendatangkan kebahagiaan.
Setelah menikah, sejenak merasa bahagia, lalu kembali merasa hampa.
Begitulah perjalanan hidup manusia Setiap satu keinginan terpenuhi, merasa bahagia sejenak dan setelah itu muncul lagi keinginan yang baru. Tentu saja, tidak semua orang perjalanan hidupnya linier seperti yang diilustrasikan di atas, tetapi pointnya adalah kebahagian akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang diinginkan dan dicintai, namun kebahagiaan tersebut tidak bersifat abadi, sifatnya hanya sementara.
Perhatikanlah hadis berikut:
عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ »
Artinya:
Dari ‘Abbas bin Sahl bin Sa’d ia berkata, Saya mendengar Ibn az-Zubair berkata di atas mimbar di Makkah ketika khutbah: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Allah maha menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.
(HR al-Bukhari)
Di dalam hadis di atas, Nabi saw. menyatakan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Maksud pernyataan tersebut adalah manusia terus menerus memenuhi dirinya dengan harta sampai ia mati lantas di kuburnya, isi perutnya dipenuhi dengan tanah kuburan.
Pernyataan Nabi saw. tersebut menunjukkan bahwa salah satu watak manusia adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kebahagiaan memang akan dirasakan apabila bisa memiliki apa yang diinginkan dan dicintai, namun akan lebih membahagiakan apabila mampu mencintai apa yang sudah dimiliki. Kepuasan akan dirasakan apabila bisa meraih kebaikan yang diharapkan, tetapi akan lebih terasa memuaskan jika mampu mengubah apa yang sudah ada dalam genggaman menjadi kebaikan yang sesuai dengan harapan.
Tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi ketidakpuasan seseorang dan keinginan yang berkelanjutan, juga berkaitan dengan manusia seperti suami, istri, anak, sahabat dan lainnya.
Sebelum berkeluarga, seseorang merasa bahwa dengan memiliki pasangan hidup, ia akan merasa bahagia. Setelah keinginannya terwujud, muncul keinginan yang lain untuk mempunyai anak. Setelah memiliki istri dan anak, muncul keinginan untuk menambah lagi. Demikian seterusnya.
Seseorang seringkali tidak merasa puas dengan orang-orang yang sudah dimiliki dan memimpikan orang lain yang belum dimiliki. Padahal memiliki mereka tidak merupakan jaminan akan mendatangkan kebahagiaan. Maka untuk mendapatkan kebahagiaan bukan dengan memiliki orang-orang yang dicintai, tetapi dengan mencintai orang-orang yang telah diamanahkan oleh Allah untuk menjadi tanggung jawab.
Mari mencintai mereka yang ada di sekitar kita, mereka yang telah menjadi bagian dari diri. Keluarga dan sahabat-sahabat yang sejati. Dukung mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan.
Dr.H. Syahrir Nuhun, Lc.M.THI